Danambil momen malam hari terbaik dengan 14PM BSI CMOS Sensor, meskipun cahaya kurang, dijamin foto tetap terang!! Kondisi : Baru dan Bergaransi Resmi SAMSUNG Indonesia. (SEIN) Minat? hubungi Wahyu (085746248748), harga hanya 2.750.000. (FIX) Spesifikasi : Resolusi : 14.2 MP BSI CMOS Sensor; Lensa : 18x Optical Zoom; View Finder : LCD Jakarta - Tren resolusi kamera smartphone terus membesar, setelah 48MP, kemudian 64MP, sekarang sudah 108MP. Bahkan 108MP pun mungkin belum batas akhir, karena chipset atau prosesor flagship seperti Snapdragon 865, sudah mendukung kemampuan hingga 200MP. Sebenarnya buat apa sih sensor kamera gede-gedean?Dulu, angka besar resolusi kamera dianggap menjual karena konsumen senang melihat angka yang besar dan sering dijadikan patokan bagus tidaknya sebuah produk. Tetapi kemudian paham ini mulai terkikis. Konsumen sekarang lebih pintar, bahwa resolusi besar belum tentu menjamin hasil foto yang lebih dengan sekarang? Apakah resolusi besar di kamera smartphone ini masih sekadar gimmick atau memang diperlukan? Problem smartphone sampai sekarang sama, para pengguna smartphone semakin menitikberatkan kemampuan hasil kamera smartphone sebagai pilihan pertama saat membeli smartphone, apalagi pada smartphone papan atas atau flagship. Sementara ini dari sisi ukuran body, smartphone memiliki keterbatasan. Tidak ada ruang untuk membenamkan sensor kamera dan lensa yang besar seperti pada kamera profesional. Ini alasannya mengapa smartphone memiliki beberapa lensa kamera, algoritma software dibantu AI yang semakin baik, dan menuju resolusi super ini memungkinkan teknologi kamera smartphone semakin baik dan mendekati kemampuan kamera profesional seperti yang diminta pengguna. Berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu saat resolusi kamera besar hanya sebagai angka-angka pelaris, sekarang ini resolusi besar di kamera smartphone memang memiliki tujuan yang ini dimungkinkan karena perkembangan kamera resolusi besar ini juga diikuti kemampuan chipset smartphone yang semakin baik yang bisa support untuk mengolah data resolusi kamera yang beberapa tujuan digunakannya kamera resolusi super besar1. CroppingKamera 108 MP seperti yang sudah diperkenalkan Xiaomi dan Samsung, membawa data digital hasil foto yang masif. Satu buah file fotonya bisa berkisar sekitar 20 kondisi foto diambil saat cahaya sangat cukup, misal di outdoor, gambar yang bisa ditangkap menyimpan banyak detail, sehingga ketika di-cropping sekalipun hasilnya tidak Lucky SebastianKondisi ini berguna misalnya saat kita pergi berlibur, ada pemandangan yang bagus yang ingin kita ambil tetapi waktu terbatas, kita bisa menggunakan kemampuan super resolution ini. Saat nanti hendak di posting di media sosial, kita bisa meng-crop beberapa bagian dari gambar untuk komposisi foto yang lebih menarik tanpa kualitasnya Hybrid ZoomResolusi super besar membawa detail gambar yang baik, sehingga jika dipusatkan ke sebagian gambar, akan seperti zooming. Foto resolusi penuh 108 MP jika difokuskan ke sebagian gambar crop, akan memberikan pembesaran setara 3x - 5x optical kemampuan ini, smartphone bisa melakukan pembesaran atau zooming dengan 1 lensa saja, tidak perlu lensa khusus jika digabungkan dengan lensa telephoto, hasilnya akan menjadi hybrid zoom yang mendekati hasil optical zoom. Teknologi ini seperti yang digunakan Samsung Galaxy S20 Ultra dengan periscope zoom folding zoom dan resolusi besar 48MP, sehingga dari 4x optical zoom periscopenya bisa dikembangkan hingga 10x hybrid Lucky SebastianDigabungkan dengan kemampuan 108 MP pada lensa utama, 10x hybrid zoom di Galaxy S20 Ultra bisa mendapat pembesaran gabungan optikal dan digital menjadi 100x yang disebut Samsung sebagai space zoom Pixel BinningSecara teori, semakin besar ukuran pixel sensor kamera, semakin banyak cahaya yang bisa ditangkap. Ini sangat berguna saat pemotretan di kondisi low-light atau minim dari resolusi super besar adalah ukuran pixel sensor yang terpaksa dibuat kecil, agar keseluruhan ukuran sensor kamera tidak terlalu besar sehingga tetap cukup diletakkan di dalam kamera flagship memiliki ukuran 12 MP kamera dengan pixel sensor 1,4 micron. Sementara 108 MP kamera hanya memiliki pixel sensor seukuran 0,8 micron. Ukuran pixel sekecil ini akan menghasilkan gambar yang kurang terang saat kondisi kurang itu, sensor resolusi besar menggunakan teknologi baru yang dinamakan pixel-binning, menggabungkan beberapa pixel kecil menjadi sebuah pixel besar untuk foto low 108 MP di kamera smartphone Xiaomi, menggunakan teknologi tetra-cell, menggabungkan 4 pixel 0,8 micron menjadi 1 pixel berukuran 1,6 itu, Samsung di Galaxy S20 Ultra, menggunakan teknologi pixel binning yang lebih baru, menggabungkan 9 pixel kecil menjadi 1 pixel besar yang dinamai nona-binning, sehingga ukuran pixelnya dari 0,8 micron menjadi 2,4 algoritma software dibantu AI, foto malam hari dengan pixel binning ini menghasilkan foto malam hari yang sangat Lucky SebastianUntuk foto di tempat yang cukup cahaya pun, dengan teknologi nona-binning ini akan didapat hasil foto yang lebih detail, tajam, dynamic range yang lebar, dan noise yang lebih kecil, karena dalam satu kali jepretan, tanpa kita sadar sebenarnya smartphone mengambil beberapa gambar sekaligus dan menggabungkannya untuk mencapai hasil 8K VideoSaat ini flagship chipset di smartphone sudah mampu merekam video dengan format 8K. Untuk bisa merekam video 8K ini, memang dibutuhkan ISP Image Signal Processor yang kinerjanya tinggi. Karena dalam setiap detik, video 8K membutuhkan 24-30 gambar dengan resolusi 33 kamera di bawah 33 MP tidak bisa membuat video 8K, karena resolusinya tidak cukup. Video 8K ini sangat masif, 16 kali ukuran video FHD, dan 4 kali lebih besar dari video Lucky SebastianSambil mengambil video 8K, smartphone seperti Galaxy S20 Ultra juga bisa berbarengan mengambil foto 32 MP. Video resolusi besar ini berguna untuk mendapat detail video yang tinggi, misalnya saat editing, dan bisa di-cropping untuk komposisi yang lebih baik, tanpa kualitasnya menjadi ini juga bisa melihat detail yang lebih tegas untuk objek yang jauh, misalnya saat pertandingan bola, pemain di ujung lapangan bisa dilihat kostum dan video 8K di-compile ke resolusi lebih rendah, hasilnya juga akan lebih baik, lebih kaya detail dibanding shooting video dengan resolusi Computational PhotographyBukan hanya hardware kamera, software pengolah hasil foto di smartphone perannya kini semakin penting. Sekarang banyak vendor menggunakan konfigurasi dan sensor kamera yang sama, tetapi hasil foto akhirnya berbeda semua karena algoritma software yang bantuan AI artificial intelligence yang sekarang menjadi core penting di chipset smartphone, setiap foto bisa dikenali objeknya dan dibuat optimal pada proses akhirnya, sehingga foto yang dihasilkan sudah matang dan siap dibagikan tanpa perlu banyak diolah pada smartphone juga bisa sekaligus mengolah foto dari 2 atau 3 lensa yang berbeda dalam waktu bersamaan, kemudian menggabungkan hasilnya, menjadi foto yang lebih baik, dengan detail, kecerahan, warna, dan dynamic range yang computational photography ini, resolusi super besar memegang peranan penting untuk mendapatkan foto yang lebih kaya dengan detail, karena setiap pixel bisa membawa informasi sendiri yang resolusi super besar 108 MP, berarti ada 108 juta buah pixel yang masing-masing membawa informasi berbeda yang unik, untuk diolah. Kemampuan mengolah secara langsung beberapa lensa kamera ini digunakan Samsung di Galaxy S20 series-nya untuk membuat fitur single take, dimana dalam sekali pengambilan foto, semua lensa bekerja mengambil berbagai macam hasil foto dan video agar tidak kehilangan momen, seperti saat tiup lilin, anak pertama belajar jalan, atraksi, dan lain-lain, yang bisa memastikan momen tersebut akan terekam dengan baik dengan berbagai Bonus BannerWalaupun mungkin tidak sebagai tujuan utama, kamera dengan super resolusi jika dicetak bisa menghasilkan gambar yang sangat besar, dalam ukuran banner hingga kira-kira tinggi 4,2 tidak terpikirkan bahwa foto dari smartphone bisa dicetak dengan hasil bagus dalam ukuran sebesar itu. Mungkin saja nanti menjelang pilkada, dimana banner atau poster besar ada di mana-mana, para kandidat akan membuat fotonya dari smartphone dengan resolusi besar beberapa fungsi dari lensa kamera dengan resolusi super besar yang sekarang ini banyak digunakan pada smartphone. Melihat kegunaannya, sudah bisa dikatakan tujuan kamera resolusi besar ini berbeda dengan kamera resolusi tinggi beberapa tahun kamera resolusi besar ini sekarang juga diikuti berbarengan dengan kemampuan chipset yang semakin mumpuni untuk mengolahnya. Jadi, kemungkinan trend smartphone dengan kamera resolusi besar ini akan terus berkembang dengan angka-angka MP yang semakin fantastis dan kemajuan teknologi di sensor kamera, juga software dengan AI di belakangnya. rns/rns STATUSOF THE CMOS IMAGE SENSOR INDUSTRY 2019 Market & Technology Report - November 2019 YOLE DÉVELOPPEMENT’S 2018 FORECAST FOR THE CMOS IMAGE SENSOR INDUSTRY WAS SPOT ON Unaffected by mobile market maturation, CMOS Image Sensors are still on a high growth trajectory. WHAT’S NEW • 2018-2024 forecast • 2018 M&A activity •
Skip to content Anda tentu tahu seperti apa hasil foto yang dibuat oleh sebuah kamera dari hand phone. Gambar yang dihasilkan cenderung berkualitas rendah, tidak peka cahaya dan banyak noise. Memang kamera pada hand phone memang bukan untuk menggantikan kamera digital, setidaknya sampai saat ini. Sebenarnya mengingat sensor yang digunakan adalah sensor CMOS yang secara teori sudah cukup memadai, seharusnya kamera pada hand phone dapat memberi hasil yang lebih baik dibandingkan yang ada saat ini. Kendala yang ada adalah untuk memberi hasil foto yang baik, ukuran sensor CMOS harus relatif besar dan hal ini menjadi masalah tersendiri bagi produsen hand phone karena terbatasnya tempat yang ada. Namun kini harapan baru di dunia fotografi selular telah muncul dengan terobosan Kodak dalam mendesain ulang sensor CMOS untuk hand phone yang meski berukuran kecil namun berkinerja tinggi. Kodak baru-baru ini berhasil membuat sensor CMOS beresolusi 5 MP dengan ukuran piksel yang hanya mikron, dirancang khusus untuk kamera pada hand phone. Dengan sensor sekecil ini dan resolusi sebesar 5 MP mungkin akan mendatangkan keraguan seperti apa hasil foto yang dihasilkannya, dan seberapa parah noisenya. Namun sensor baru yang diberi nama Kodak KAC-05020 ini berani menantang sensor yang lebih besar ukuran piksel sekitar mikron dalam hal kualitas foto terutama untuk urusan fotografi rendah cahaya low light, berkat teknologi TRUESENSE CMOS pixel. Kira-kira beginilah cara kerjanya bila terlalu teoritis anda bisa lewati alinea ini dan langsung ke alinea selanjutnya Sensor adalah perangkat analog yang mengubah gelombang cahaya yang mengenai permukaan sensor menjadi tegangan. Semakin tinggi intensitas cahaya yang mengenai sensor maka semakin tinggi sinyal output dari sensor. Secara atomik, saat permukaan sensor terkena cahaya, silikon yang menjadi bahan penyusun sensor akan mengeluarkan elektron yang menjadi acuan nilai besaran tegangan. Tegangan output dari sensor inilah yang akan diteruskan ke rangkaian Analog to Digital Converter. Sebaliknya saat kondisi cahaya rendah, sensor akan memberikan nilai outputnya yang juga rendah. Hal ini menyebabkan hasil foto akan gelap dan biasanya hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sensitivitas sensor ISO sehingga nilai output dan juga noise yang ada juga akan naik. Kodak mendesain sensor CMOS baru ini dengan cara membalik prinsip kerja sensor CMOS konvensional, prinsipnya dengan memanfaatkan ketiadaan cahaya untuk mendeteksi sinyal. Secara atomik, sensor CMOS baru ini memiliki silikon dengan kutub polarity yang terbalik sehingga mampu mengukur lubang hole yang tertinggal saat elektron tersebut dikeluarkan. Pada kondisi cahaya rendah hanya sedikit elektron yang dikeluarkan, namun sebaliknya akan banyak tersedia lubang yang bisa dihitung dan dijadikan referensi nilai output. Hukum Fisika atom Setiap perpindahan elektron pada sebuah atom akan meninggalkan sebuah lubang pada atom tersebut. Prinsip sederhana ini ternyata berhasil mengatasi masalah yang umum dialami sensor CMOS dalam kondisi cahaya rendah, bahkan hasil foto yang dibuat sensor CMOS ini mengalahkan hasil sensor CCD yang dimiliki kamera digital. Wow! Untuk urusan kepekaan cahaya, sensor baru ini juga dilengkapi dengan filter baru bernama Kodak TRUESENSE Color Filter Pattern. Filter ini melengkapi piksel RGB yang sudah ada dengan sebuah piksel panchromatic tidak berwarna yang khusus mengumpulkan informasi cahaya. Piksel ini sensitif terhadap seluruh spektrum cahaya tampak sehingga sensitivitasnya lebih tinggi hingga 4x dibanding sensitivitas sensor RGB biasa. Dengan begitu maka kinerja sensor saat cahaya rendah dapat ditingkatkan. Dengan penemuan baru ini Kodak mengklaim sensor ini mampu memiliki sensitivitas hingga ISO 3200, juga akan mampu memberikan resolusi 720p untuk video dengan 30 fps, dan dengan dukungan Texas Instruments OMAP dimungkinkan mencapai performa tinggi layaknya kamera digital yaitu digital image stabilizer, auto fokus yang cepat, face detection dan pengurang mata merah red-eye reduction. Dengan kemampuan seperti ini, di masa mendatang hand phone yang kita miliki juga sudah dapat menjadi kamera digital sesungguhnya yang dapat diandalkan untuk memotret dalam segala kondisi. Kita tunggu saja implementasi dari sensor Kodak ini pada kamera masa depan. Erwin M. Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama View all posts by Erwin M. Post navigation
PDF| Perkembangan terbaru dari teknologi VLSI pada kamera menggunakan elemen pengolahan digital terintegrasi pada sebuah chip yang ditanamkan sebuah | Find, read and cite all the research you Alguns podem não acreditar, mas para muitos uma das características mais importantes em um smartphone é a câmera. Não importa se a pessoa gosta de tirar fotos de paisagens, comidas, pessoas ou apenas selfies para poder escolher o aparelho correto, é essencial entender bem esse assunto para não errar na hora da matéria, vamos esclarecer algumas dúvidas a respeito das especificações técnicas de câmera de celular que todos deveriam conhecer. Vamos abordar assuntos como megapixel, abertura, ISO, velocidade do obturador, sensor tamanho e tipo, estabilização de imagem, HDR, siglas HD, Full HD e 4K, formato RAW, lentes e foco. Você conhece mais algum termo que gostaria que explicássemos? Diz aí no campo dos comentários!MegapixelsEssa é a especificação mais conhecida e mal interpretada entre todos os aspectos técnicos de uma câmera. O número utilizado para representar os megapixels reflete a quantidade de pixels que a imagem que foi capturada vai megapixel é igual a um milhão de pixels. Portanto, 20 megapixels é o mesmo que 20 milhões de pixels. De um modo geral, quanto mais megapixels, melhor tende a ser o resultado final. Assim, é possível dar zoom ou recortar uma imagem sem comprometer muito a qualidade da é perfeitamente possível ter uma foto melhor de uma câmera de 12 megapixels do que uma produzida por uma câmera de 20 megapixels. Isso acontece porque há outros aspectos que veremos a seguir que determinam a qualidade final da abertura faz referência à quantidade de luz que a lente deixa entrar. Essa medida é expressada pela letra F e, quanto menor o seu valor, mais luz entra. A abertura também faz variar a profundidade de campo, possibilitando desfocar o fundo da imagem. Nesse caso, quanto menor a abertura, medida faz referência a quão sensível uma câmera é à luz disponível. Quando maior o número ISO, maior é a sensibilidade. Porém, um ISO alto resulta em ruído nas fotos, o que produz aquele efeito granulado. No geral, um ISO baixo é o ideal, mas isso depende muito da quantidade de luz disponível na do obturadorA velocidade do obturador define quanto tempo a câmera mantém a lente aberta para registrar uma foto. Quanto maior o tempo que o obturador se mantém aberto, maior é a quantidade de luz que entra. Porém, isso também torna a câmera mais vulnerável a tremidas e action cams, nas quais a velocidade de captura é importante, uma velocidade do obturador alta é o ideal. Em fotos noturnas de objetos parados, uma exposição mais longa vai produzir resultados do sensorO sensor de uma câmera é o componente responsável por capturar a imagem. Quanto maior o sensor, melhor tende a ser a foto capturada. É por causa dele que muitos celulares têm a câmera é importante saber que há dois tipos de sensores CCD e CMOS. Smartphones mais modernos usam sensores CMOS, que são mais caros e complexos. Além disso, os sensores podem ser fabricados por empresas diferentes, como Samsung, Sony ou de imagemA estabilização de imagem pode ser óptica ou eletrônica. A óptica, mais avançada e cara, coloca o sensor dentro de um conjunto que compensa os movimentos do celular. A eletrônica tenta corrigir a imagem com ajustes na velocidade do obturador. Portanto, um smartphone com estabilização óptica de imagem é melhor do que um presença do HDR, ou grande alcance dinâmico, ajuda a registrar imagens com intensidades de luz diferentes. Quando ativado, a câmera captura imagens com exposições diferentes da mesma cena e combina as fotos para criar a imagem certa. Esse recurso está presente em muitos celulares, especialmente os mais modernos, podendo ter nomes Full HD e 4KHD, Full HD e 4K são medidas de resolução, mas são usadas para descrever as capacidades de gravar vídeos. Assim como no caso dos megapixels, uma das vantagens em altas resoluções é a capacidade de dar zoom sem perder muita resolução. Porém, o ponto negativo é o espaço ocupado pelos arquivos de vídeo, que aumenta de acordo com a = 1280x720 pixelsFull HD =1920x1080 pixelsUltra HD 4K = 3840x2160 pixelsFormato RAWA maioria dos celulares salva as imagens em JPEG, mas alguns já suportam o formato RAW. Esse formato registra tudo o que o sensor vê, sendo ideal para fotógrafos profissionais. Imagens JPEG são otimizadas e comprimidas para ocupar menos espaço. O RAW também consegue identificar mais níveis de brilho, mas ocupa mais de ser um aspecto pouco divulgado pelas fabricantes, é bom saber se o aparelho possui um bom conjunto de lentes. Algumas empresas já informam detalhes como a quantidade e o tipo de lente utilizada na câmera. Por isso, é bom ficar focalizar um objeto, as câmeras de celulares se apoiam em dois métodos o foco por contraste e o foco laser. A detecção de contraste geralmente é mais lenta e menos precisa. Já o foco laser é mais rápido e produz fotos com maior nitidez......Essas são as principais especificações de câmera que você deve analisar ao escolher um celular. Já conhecia todas elas? Gostaria de sugerir mais algum aspecto a ser considerado? Deixe a sua opinião no campo dos comentários!Você conhece bem todas as especificações técnicas de uma câmera de celular? Comente no Fórum do TecMundo! Mediain category "CMOS sensors" out of 30 total. 004 2020 05 12 Sensor.jpg. 2012 Sony NEX-7 taken apart 2012 CP+.jpg. 26.2 MP CMOS full-frame sensor of Canon mirrorless RP camera.jpg. 35mm FullSize-Sensor and MicroSD Card.jpg. Mobile view; Developers; Statistics; O fotógrafo e profissional de animação Raymond Sirí criou dois vídeos para explicar como funcionam os sensores das câmeras – seja em modelos profissionais, seja em smartphones. >>> O que todos devem saber sobre câmeras Existem dois tipos principais de sensores de imagem para câmeras digitais e filmadoras CMOS e CCD. Ambos são feitos de silício, e funcionam de maneira semelhante. Eles dependem do efeito fotoelétrico isto é, os fótons partículas de luz interagem com o silício para mover elétrons no sensor, capturando a imagem. CMOS O sensor mais popular é o CMOS semicondutor metal-óxido complementar, por vezes também chamado de APS sensor de pixels ativos. Ele está presente na maioria dos celulares, câmeras point-and-shoot recentes, DSLRs e webcams. Os sensores CMOS contêm fileiras de fotodiodos, que convertem a luz fótons em carga elétrica elétrons. O sensor faz uma varredura, lendo cada fileira de fotodiodos uma a uma, e envia os dados para um processador, que monta a imagem completa. Assim O vídeo demonstra que, para capturar as cores, cada pixel é coberto por um filtro – verde, azul ou vermelho. Eles estão organizados no que se chama “matriz de Bayer” para cada par de pixels vermelho e azul, há dois pixels verdes. Isso foi inventado por Bruce Bayer, da Kodak. Por que isso? Como explica a fabricante de câmeras RED Os dois conceitos-chave são 1 nossos olhos percebem muito mais o brilho do que a cor, e 2 a luz verde contribui cerca de duas vezes mais para a nossa percepção do brilho do que o efeito combinado do vermelho e azul. Alocar mais pixels verdes, portanto, produz uma imagem com aparência muito melhor do que se cada cor fosse alocada igualmente. Algumas câmeras, no entanto, usam sensores CMOS empilhados que detectam cada cor verde, azul, vermelho de forma individual. A maior vantagem do CMOS é seu custo reduzido, pois pode ser fabricado com métodos semelhantes ao de processadores e outros chips. Além disso, ele consome menos energia. No entanto, o sensor CMOS leva frações de segundo para ler cada fileira de pixels, em vez de fazer tudo de uma vez. Por isso, certas partes da imagem são capturadas um pouco depois das outras. Isso pode resultar em distorções quando você fotografa um objeto em movimento – é o efeito “rolling shutter”, ilustrado abaixo Imagem por DIYPhotography Quanto mais rápido for o sensor, menor será esse efeito. CCD Por sua vez, temos o CCD dispositivo de carga acoplada. Ele era bastante usado até os anos 90, quando os sensores CMOS tinham uma qualidade inaceitável. Você pode encontrá-lo em câmeras point-and-shoot mais antigas, e também em telescópios astronômicos. A maior diferença é que o sensor CCD captura toda a imagem de uma vez. Cada pixel é atingido pela luz e armazena sua cor e intensidade. Então, o sensor recebe a informação vinda de cada fileira de fotodiodos, amplifica o sinal, e o passa pelo conversor analógico-digital. Como explica o site Para começar, as cargas na primeira fileira são transferidas para um registro de leitura. A partir daí, os sinais são então enviados a um amplificador e, em seguida, para um conversor analógico-digital. Depois que uma fileira é lida, suas cargas no registro de leitura são excluídas. A próxima fileira, em seguida, entra no registo de leitura, e todas as fileiras acima descem uma linha… sempre que uma fileira desce, as outras descem junto para ocupar o espaço vazio. Desta forma, cada fileira pode ser lida de cada vez. O sensor só volta a interagir com a luz quando termina de processar todos os pixels. Por causa disso, não há efeito “rolling shutter” nos sensores CCD, tornando-os mais confiáveis para telescópios. Imagem por DIYPhotography No entanto, isso significa que o CCD é mais sensível à luz, o que pode causar o efeito blooming o sensor vaza a fonte de luz para outros pixels, deixando um brilho exagerado na imagem. O sensor também consome mais energia, e custa mais para ser fabricado. O sensor CCD foi inventado em 1969 por Willard S. Boyle e George E. Smith, e rendeu a eles o prêmio Nobel de Física em 2009. [Raymond Sirí via Peta Pixel] Foto por ZEISS Microscopy/Flickr SamsungElectronics merilis dua sensor foto (image) untuk smartphone multi-kamera. Dua sensor tersebut yakni Isocell Bright
Este artigo foi útil? Considere fazer uma contribuição Ouça este artigo Para saber um pouco mais sobre como o sensor digital funciona, é importante entender sobre o modelo que prevalece na fotografia digital atualmente, ou seja, o CMOS. Outra opção seria o CCD, que hojé é mais empregado em câmeras compactas, devido à sua menor dimensão, mas não é sobre ele que trataremos CMOS de uma câmera fotográfica. Foto Valerio Pardi / sensor, ou chip, produz a foto através da captação de descargar elétricas. Este tipo de chip possui milhões de transdutores fotossensíveis photosites. A função destes transdutores é converter em carga elétrica a energia luminosa, pois desta forma ela poderá ser lida e gravada em valores numéricos, gerando a imagem sensor possui uma superfície fotossensível, cujo tamanho é o fator que determinará a qualidade da imagem que será produzida. Trocando em miúdos, quanto maior for o sensor, mais qualidade de imagem ele será capaz de produzir. Nas câmeras DSLR podemos identificar quatro tamanhos full-frame, APC-H, APS-C e superfície fotossensível é constituída por pixels, que recebem, no momento da exposição, uma carga de fótons. Quanto maior for a superfície do pixel, mais fótons ele será capaz de captar, e melhor será a qualidade da imagem. Outra característica importante é o espaçamento entre os pixels, quanto menor for esta medida, melhor qualidade de outros agentes podem otimizar esta captação, como as micro lentes, que ajudam a convergir uma quantidade maior de fótons sobre o pixel; ou o filtro de cores primárias que direciona as cores para que um pixel receba apenas um tipo de luz vermelha, azul ou fabricantes de sensores vem melhorando sua qualidade frequentemente, e tornando-os mais acessíveis aos diversos consumidores, mas o que ainda determina a qualidade da imagem ainda é o tamanho do originalmente publicado em artigo foi útil? Considere fazer uma contribuição
AnImage Sensor is a photosensitive device that. converts light signals into digital signals. (colours/RGB data). Typically, the two main types in common use are. CCD and CMOS sensors and are mainly used in. digital cameras and other imaging devices. CCD stands for Charged-Coupled Device and CMOS.
Sensores CMOS e CCD são componentes usados em câmeras para converter a luz em fotos. Eles podem afetar diretamente quesitos como resolução, sensibilidade à luz, reprodução de cores e consumo de energia. Entenda, a seguir, quais são as principais vantagens e desvantagens de cada tipo de sensor de imagem. Sensor CCD de webcam Imagem Ethan R / Flickr ÍndiceEntendendo as siglasComparando as tecnologiasResoluçãoCoresSensibilidadeVelocidadeConsumo de energiaCusto de fabricaçãoRecursos adicionaisCCD ou CMOS qual escolher? Entendendo as siglas CCD significa “dispositivo de carga acoplada” e tem um circuito composto por capacitores conectados acoplados uns aos outros. CMOS significa “semicondutor de óxido metálico complementar”, em uma referência ao seu processo de fabricação. Os sensores de imagem CCD e CMOS usam o mesmo princípio para tirar fotos ambos capturam a luz que vem da lente através de fotodiodos ou pixels e armazenam a luz como um sinal elétrico. Sensores CMOS e CCD usam essa carga elétrica de formas diferentes. Em um dispositivo CCD, o sinal elétrico é transportado para fora do sensor, é amplificado, e passa por um conversor analógico-digital. Assim, a carga de cada fotodiodo vira um valor digital. Em câmeras CMOS, os pixels vêm com amplificadores para o sinal elétrico, e esta carga já passa por um conversor analógico-digital antes de sair – assim, o sensor emite valores digitais. Como funciona o sensor CCD imagem Vitor Pádua / Tecnoblog Como funciona o sensor CMOS de uma câmera Imagem Vitor Pádua / Tecnoblog Comparando as tecnologias CaracterísticaCCDCMOSResoluçãoAté megapixelsChega a 200 megapixelsCoresMaior fidelidadeMenor fidelidadeSensibilidade à luzMaiorMenorVelocidade de capturaMenor, limitada a 11 fpsMaior, pode passar dos 45 fpsConsumo de energiaMaior, até 100x a mais que CMOSMenorCusto de fabricaçãoMais caroMais barato Resolução Sensores CCD permitem chegar a resoluções altíssimas o recordista tem megapixels, segundo o Guinness Book. Por sua vez, sensores CMOS atingem 200 megapixels, caso do Samsung Isocell HP2. A qualidade de imagem no CCD é maior. Graças a seu processo de fabricação, o sensor transporta cargas elétricas sem distorções através do chip, levando a um sinal mais uniforme e ruído menor. O CCD oferece qualidade melhor em cenários exigentes, como em câmeras TDI para cenários com pouca luz e muito movimento; e para capturar imagens no espectro NIR próximo ao infravermelho. No entanto, a qualidade do CMOS já se aproxima do CCDs em alguns casos, graças a avanços nessa tecnologia, segundo a fabricante Teledyne. Por exemplo, sensores CMOS são usados em vez de CCDs para obter imagens ultravioleta, graças a sua alta velocidade de leitura. Galaxy S23 Ultra, celular com sensor CMOS de 200 megapixels Imagem Paulo Higa/Tecnoblog Cores Sensores CCD reproduzem cores com maior precisão que o CMOS, segundo a fabricante de câmeras industriais Adimec. Os CCDs produzem imagens com maior alcance dinâmico e menos ruído, conforme explica a Olympus. No entanto, a diferença entre CMOS e CCD vem diminuindo. Em testes com câmeras da Nikon, o especialista Enrico Scaramelli não encontrou diferenças significativas na reprodução de cores. Tanto o CMOS como o CCD são monocromáticos, mas possuem um filtro de cor na frente dos pixels, que deixa passar só determinados tons. Filtros RGB, por exemplo, recebem só as cores vermelho, verde e azul. Estes tons são usados para calcular as cores reais da cena. Sensibilidade Sensores CCD têm maior sensibilidade à luz, porque cada pixel é quase que totalmente dedicado a receber o sinal luminoso. Isso permite atingir valores ISO mais altos. Em sensores CMOS, parte da luz atinge os transistores que acompanham cada pixel. No CMOS, cada pixel tem componentes adicionais, como amplificadores e conversores de sinal, que reduzem a área disponível para captação de luz. Além disso, o sinal elétrico sofre distorções ao ser transportado pelo chip. Ajuste de ISO na câmera Imagem Felipe Ventura / Tecnoblog Velocidade Sensores CMOS atingem maior velocidade cada pixel tem transistores para amplificar o sinal elétrico e convertê-lo, antes de transportá-lo para fora do chip. Isso garante um processamento paralelo que agiliza a captura de imagens. Sensores CMOS podem passar dos 45 fps quadros por segundo, enquanto sensores CCD ficam limitados a 11 fps, segundo a especialista Christina Pyrgaki. No entanto, sensores CMOS podem gerar imagens distorcidas de objetos em movimento devido ao método rolling shutter, que consiste em capturar a imagem linha por linha. O CCD, por sua vez, lê todos os pixels de uma vez. Consumo de energia Sensores CMOS consomem até 100 vezes menos energia que um sensor CCD equivalente, segundo a Teledyne FLIR. Os sensores CMOS são bastante usados em celulares, maior segmento de câmeras do mundo, porque são menores, geram menos calor e gastam menos bateria. Custo de fabricação Os sensores CMOS são muito mais baratos de fabricar do que os sensores CCD, como afirma a Edge AI and Vision Alliance. Os dispositivos CMOS têm menor complexidade e podem ser fabricados na maioria das linhas de produção de memória e componentes lógicos. Os sensores CCD ainda podem ser necessários para equipamentos profissionais. Mas, dado que as fabricantes de sensores se afastaram da tecnologia CCD, haverá menos opções de fornecedores, elevando o preço. Recursos adicionais A maioria das câmeras CMOS possui sensor com iluminação frontal os transistores ficam ao lado dos pixels, e reduzem a área sensível à luz. O CMOS retroiluminado BSI, na sigla em inglês coloca os transistores abaixo da superfície que recebe a luz. O BSI CMOS tem sensibilidade maior à luz, atingindo eficiência de 95%, segundo a Teledyne Photometrics. O CMOS comum tem eficiência de até 80%. O CMOS empilhado stacked CMOS possui uma superfície sensível à luz acima dos transistores, assim como o BSI CMOS. Além disso, o processador de imagem ISP fica empilhado com a memória DRAM rápida, acelerando a captura de fotos. Algumas câmeras CMOS vêm com estabilização de imagem no corpo IBIS. A tecnologia, também conhecida como sensor shift, move o sensor acompanhando o movimento da câmera, usando giroscópio e acelerômetro. CCD ou CMOS qual escolher? Sensores CCD são recomendados para aplicações que exigem maior precisão nas cores, melhor desempenho em pouca luz e menos ruído. Isso vale para áreas como astronomia e biomedicina. Sensores CMOS são indicados para dispositivos compactos, como smartphones, ou que não requerem uma qualidade de imagem tão alta, como câmeras de segurança. Vale lembrar que câmeras DSLR e mirrorless mais recentes também costumam usar sensores CMOS. Active-pixel sensorCMOSDispositivo de carga acopladaDSLRNikon
Erabaru dalam mobile computing telah dilakoni oleh HTC dengan meluncurkan Shift, komputer portable yang cukup powerful untuk menjalankan system operasi Windows Vista® Business, dan dilengkapi dengan sejumlah fungsi menarik lainnya. * Keamanan : Fingerprint sensor * Web Camera : Color CMOS VGA camera untuk videoconferencing * Audio : built
Salah satu aspek yang dilihat saat menilai kualitas kamera digital adalah sensornya. Kita tahu sensor pada kamera digital adalah rangkaian peka cahaya, tempat gambar dibentuk dan dirubah menjadi sinyal data. Tidak semua kamera digital punya ukuran sensor yang sama. Sesuai bentuknya, kamera digital yang kecil umumnya pakai sensor yang juga kecil, sedangkan kamera mirrorless dan DSLR memakai sensor yang lebih besar. Sensor dengan luas penampang sama dengan ukuran film 35mm disebut sensor full frame. Mengapa penting untuk mengenal ukuran sensor di kamera digital? Karena ukuran sensor berkaitan dengan kemampuan menangkap cahaya dan menentukan bagus tidaknya hasil foto yang diambil. Sekeping sensor pada dasarnya merupakan sekumpulan piksel yang peka cahaya, saat ini umumnya sekeping sensor punya 10 juta piksel bahkan lebih. Makin banyak piksel, makin detil foto yang bisa direkam. Tapi saat bicara kualitas hasil foto, kita perlu mencari lebih jauh info ukuran sensornya, bukan sekedar berapa juta pikselnya saja. Megapiksel, atau resolusi sensor, saat ini seperti jadi cara efektif untuk marketing. Maka itu ponsel berkamera pun dibuat punya sensor yang megapikselnya tinggi. Pun demikian dengan kamera saku sampai kamera canggih, semua berlomba menjual megapiksel’ ini. Bayangkan sensor kecil yang dijejali piksel begitu banyak, seperti apa rapat dan sempitnya piksel-piksel itu berhimpit? Dibawah ini adalah contoh ilustrasi ukuran sensor, dua di sebelah kiri yang berwarna merah adalah mewakili sensor kecil, umumnya ditemui di kamera saku. Sensor kecil memang murah dalam hal biaya produksi, dan bisa membuat bentuk kamera jadi sangat kecil. Di sisi lain, ukuran sensor yang lebih besar memang lebih mahal dan kamera/lensanya jadi lebih besar. Tapi keuntungannya dengan luas penampang yang lebih besar, tiap piksel punya ukuran yang lebih besar dan mampu menangkap cahaya dengan lebih baik. Maka itu saat kondisi kurang cahaya, dimana kamera tentu akan menaikkan ISO kepekaan sensor, yang terjadi adalah hasil foto dari kamera dengan sensor besar punya hasil foto yang lebih baik. Sedangkan di ISO tinggi, kamera sensor kecil akan dipenuhi bercak noise yang mengganggu. Noise ini oleh kamera modern dicoba untuk dikurangi secara otomatis lewat prosesor kamera namun yang terjadi hasil fotonya jadi tidak natural seperti lukisan cat air. Sensor CMOS vs sensor CCD Perbedaan utama desain CMOS dan CCD adalah pada sirkuit digitalnya. Setiap piksel pada sensor CMOS sudah memakai sistem chip yang langsung mengkonversi tegangan menjadi data, sementara piksel-piksel pada sensor CCD hanya berupa photodioda yang mengeluarkan sinyal analog sehingga perlu rangkaian terpisah untuk merubah dari analog ke digital/ADC. Anda mungkin penasaran mengapa banyak produsen yang kini beralih ke sensor CMOS, padahal secara hasil foto sensor CCD juga sudah memenuhi standar. Alasan utamanya menurut saya adalah soal kepraktisan, dimana sekeping sensor CMOS sudah mampu memberi keluaran data digital siap olah sehingga meniadakan biaya untuk membuat rangkaian ADC. Selain itu sensor CMOS juga punya kemampuan untuk diajak bekerja cepat yaitu sanggup mengambil banyak foto dalam waktu satu detik. Ini tentu menguntungkan bagi produsen yang ingin menjual fitur high speed burst. Faktor lain yang juga perlu dicatat adalah sensor CMOS lebih hemat energi sehingga pemakaian baterai lebih awet. Maka itu tak heran kini semakin banyak kamera digital DSLR maupun kamera saku yang akhirnya beralih ke sensor CMOS. Adapun soal kemampuan sensor CMOS dalam ISO tinggi pada dasarnya tak berbeda dengan sensor CCD dimana noise yang ditimbulkan juga linier dengan kenaikan ISO. Kalau ada klaim sensor CMOS lebih aman dari noise maka itu hanya kecerdikan produsen dalam mengatur noise reduction. Cara sensor menangkap’ warna Sensor gambar pada dasarnya merupakan perpaduan dari chip peka cahaya untuk mendapat informasi terang gelap dan filter warna untuk merekam warna seakurat mungkin. Di era fotografi film, pada sebuah roll film terdapat tiga lapis emulsi yang peka terhadap warna merah Red, hijau Green dan biru Blue. Di era digital, sensor kamera memiliki bermacam variasi desain teknologi filter warna tergantung produsennya dan harga sensornya. Cara kerja filter warna cukup simpel, misal seberkas cahaya polikromatik multi warna melalui filter merah, maka warna apapun selain warna merah tidak bisa lolos melewati filter itu. Dengan begitu sensor hanya akan menghasilkan warna merah saja. Untuk mewujudkan jutaan kombinasi warna seperti keadaan aslinya, cukup memakai tiga warna filter yaitu RGB sama seperti film dan pencampuran dari ketiga warna komplementer itu bisa menghasilkan aneka warna yang sangat banyak. Hal yang sama kita bisa jumpai juga di layar LCD seperti komputer atau ponsel yang tersusun dari piksel RGB. Bayer CFA Sesuai nama penemunya yaitu Bryce Bayer, seorang ilmuwan dari Kodak pertama kali memperkenalkan teknik ini di tahun 1970. Sensor dengan desain Bayer Color Filter Array CFA termasuk sensor paling banyak dipakai di kamera digital hingga saat ini. Keuntungan desain sensor Bayer adalah desain mosaik filter warna yang simpel cukup satu lapis, namun sudah mencakup tiga elemen warna dasar yaitu RGB lihat ilustrasi di atas. Kerugiannya adalah setiap satu piksel pada dasarnya hanya melihat’ satu warna, maka untuk bisa menampilkan warna yang sebenarnya perlu dilakukan teknik color sampling dengan perhitungan rumit berupa interpolasi demosaicing. Perhatikan ilustrasi mosaik piksel di bawah ini, ternyata filter warna hijau punya jumlah yang lebih banyak dibanding warna merah dan biru. Hal ini dibuat mengikuti sifat mata manusia yang lebih peka terhadap warna hijau. Kekurangan sensor Bayer yang paling disayangkan adalah hasil foto yang didapat dengan cara interpolasi tidak bisa menampilkan warna sebaik aslinya. Selain itu kerap terjadi moire pada saat sensor menangkap pola garis yang rapat seperti motif di kemeja atau pada bangunan. Cara termudah mengurangi moire adalah dengan memasang filter low pass yang bersifat anti aliasing, yang membuat ketajaman foto sedikit menurun. Sensor X Trans Sensor dengan nama X Trans dikembangkan secara ekslusif oleh Fujifilm, dan digunakan pada beberapa kamera kelas atas Fuji seperti X-E2 dan X-T1. Desain filter warna di sensor X Trans merupakan pengembangan dari desain Bayer yang punya kesamaan bahwa setiap piksel hanya bisa melihat satu warna. Bedanya, Fuji menata ulang susunan filter warna RGBnya. Bila pada desain Bayer kita menemui dua piksel hijau, satu merah dan satu biru pada grid 2×2, maka di sensor X Trans kita akan menemui pola grid 6×6 yang berulang. Nama X trans sepertinya diambil dari susunan piksel hijau dalam grid 6×6 yang membentuk huruf X seperti contoh di bawah ini. Fuji mengklaim beberapa keunggulan desain X Trans seperti tidak perlu filter low pass, karena desain pikselnya sudah aman dari moire terhindar dari false colour, karena setiap baris piksel punya semua elemen warna RGB tata letak filter warna yang agak acak memberi kesan grain layaknya film Sepintas kita bisa setuju kalau desain X Trans lebih baik daripada Bayer, namun ada beberapa hal yang masih jadi kendala dari desain X Trans ini, yaitu hampir tidak mungkin Fuji akan memberikan lisensi X Trans ke produsen kamera lain artinya hanya pemilik kamera Fuji tipe tertentu yang bisa menikmati sensor ini. Kendala lain adalah sulitnya dukungan aplikasi editing untuk bisa membaca file RAW dari sensor X Trans ini. Sensor Foveon X3 Foveon sementara ini juga ekslusif dikembangakan untuk kamera Sigma tipe tertentu. Dibanding sensor lain yang cuma punya satu lapis filter warna, sensor Foveon punya tiga lapis filter warna yaitu lapisan merah, hijau dan biru. Desain ini persis sama dengan desain emulsi warna pada roll film foto. Hasil foto dari sensor Foveon memberikan warna yang akurat dan cenderung vibrant, bahasa gampangnya seindah warna aslinya. Hal yang wajar karena setiap photo detector di sensor Foveon memang menerima informasi warna yang utuh dan tidak diperlukan lagi proses menebak’ warna seperti sensor Bayer atau X-Trans. Yang jadi polemik dalam sensor Foveon adalah jumlah piksel aktual. Misalnya ada tiga lapis filter warna yang masing-masing berjumlah 3,4 juta piksel, maka Foveon menyebut sensornya adalah sensor 10,2 MP karena didapat dari 3 lapis filter 3,4 MP. Ini agak rancu karena saat foto yang dihasilkan dari sensor Foveon kita lihat resolusi gambarn efektifnya memang hanya 2268 x 1512 piksel atau setara dengan 3,4 MP originalnya dan yang terbaru 15 MP. Meski demikian, karena kualitas di pixel levelnya sangat tinggi, maka saat diadu dalam cetak dengan foto buatan sensor Bayer, resolusinya seperti 2X yang tertera di file foto. Misalnya MP setara MP dan 15 MP setara 30 MP. tambahan oleh Enche Tjin Salah satu kelemahan dari sensor Foveon adalah noise yang sudah terasa mengganggu walau di ISO menengah seperti ISO 800. Tapi seiring peningkatan teknologi pengurang noise maka hal ini tidak akan jadi masalah serius di masa mendatang. Tambahan oleh Enche Tjin Kelebihan sensor Foveon adalah membuat foto dengan ketajaman dan micro-kontras yang sangat bagus sehingga detail foto lebih jelas dan tajam. Hal ini disebabkan karena tidak adanya filter AA Anti-Alias yang biasanya terdapat di sensor tipe Bayer. Juga tidak ada moire and chroma noise. Sehingga hasil dari sensor Foveon ini lebih murni daripada sensor lain. Kelemahan sensor ini yaitu diperlukan tenaga prosesor yang sangat besar dan relatif lama untuk memproses fotonya, selain itu juga menguras tenaga baterai. Kamera jadi lebih cepat panas. Kamera yang mengunakan Foveon ini sampai sekarang hanya Sigma, yaitu seri Sigma DP compact dan Sigma SD1 DSLR. Kesimpulan Teknologi sensor gambar masih terus berkembang, dari yang paling mudah dilihat seperti kenaikan resolusi megapiksel hingga teknologi lain yang bisa membuat hasil foto meningkat siginifkan. Yang saya cermati adalah era Bayer sudah terlampau usang, dengan teknik interpolasi yang banyak keterbatasan, perlu segera digantikan dengan metoda lain. Sensor X Trans buatan Fuji membawa angin segar dengan peningkatan kualitas foto dibanding sensor Bayer khususnya dalam hal ketajaman dan kekayaan warna, namun sayangnya tidak belum? bisa diadopsi di kamera lain. Sensor Foveon pun demikian, walau secara teknik paling menyerupai emulsi film yang artinya bakal memberi hasil foto yang paling baik justru dipakai di kamera yang jarang dijumpai seperti kamera Sigma. Sensor kamera yang paling ideal itu harus cukup banyak piksel detail, punya dynamic range lebih lebar dari sensor yang ada saat ini, punya filter warna yang lebih baik dari Bayer CFA, dan efisien harga, performa, kinerja ISO tinggi dsb. Kira-kira kapan ya sensor ideal ini bisa terwujud? About the author Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

6 Ambient Light Sensor. The light sensor detects the lighting levels in the vicinity to adjust the display brightness accordingly. It is used in

88 88 people found this article helpful Sensors impact images more than you realize Updated on September 28, 2020 A Complementary Metal-Oxide Semiconductor CMOS image sensor is a type of image sensor technology inside some digital cameras. It consists of an integrated circuit that records an image. You can think of the image sensor as being similar to the film in an old film camera. The CMOS sensor consists of millions of pixel sensors, each of which includes a photodetector. As light enters the camera through the lens, it strikes the CMOS image sensor, which causes each photodetector to accumulate an electrical charge based on the amount of light that strikes it. The digital camera then converts the charge to a digital reading, which determines the strength of the light measured at each photodetector, as well as the color. The software used to display photos converts those readings into the individual pixels that make up the photo when displayed together. CMOS vs. CCD CMOS uses a slightly different technology from a Charged Coupled Device CCD—another type of image sensor found in digital cameras. More digital cameras are using CMOS technology than CCD because CMOS image sensors use less power and can transmit data faster than CCD. However, CMOS image sensors tend to cost more than CCD. And as image sensors have been increasing in the number of pixels they record, the ability of a CMOS image sensor to move the data faster on the chip and to other components of the camera has become more valuable. In the early days of digital cameras, the batteries were larger because the cameras were larger, and so the CCD's higher power consumption was not a huge concern. But as digital cameras shrunk in size, requiring smaller batteries, CMOS became the better option. Benefits of CMOS One area where CMOS really has an advantage over other image sensor technologies is in the tasks it is able to perform on a chip, rather than sending the image sensor data to the camera's firmware or software for processing. For example, a CMOS image sensor can perform noise reduction capabilities directly on the chip, which saves time when moving data inside the camera. The CMOS image sensor can also perform analog-to-digital conversion processes on the chip—something CCD image sensors cannot do. Some cameras will even perform autofocus work on the CMOS image sensor itself, which again improves the camera's overall performance speeds. Continued Improvements in CMOS As camera manufacturers have migrated toward CMOS technology for image sensors in cameras, more research has gone into the technology, resulting in even strong improvements. For example, while CCD image sensors used to be cheaper than CMOS to manufacture, the additional research focus on CMOS image sensors has allowed the cost of CMOS to continue to drop. One area where this emphasis on research has benefited CMOS is in low light technology. CMOS image sensors continue to show improvement in their ability to record images with decent results in low-light photography. The on-chip noise reduction capabilities of CMOS have steadily increased in recent years, further improving the ability of the CMOS image sensor to perform well in low light. Another recent improvement to CMOS was the introduction of back-illuminated image sensor technology. With this design, the wires that move data from the image sensor to the camera are moved from the front of the image sensor—where they can block some of the light striking the sensor—to the back. This help the CMOS image sensor perform better in low light, while retaining the chip's ability to move data at a high speed when compared with CCD image sensors. Thanks for letting us know! Get the Latest Tech News Delivered Every Day Subscribe

Currently the mainstream smartphone sensor is a complementary metal-oxide-semiconductor (CMOS) sensor. The pixel count is an important parameter of the smartphone camera sensor. In the past decade, the pixel count of image sensors installed on mobile phones doubled almost every two years, following a trend similar to Moore's law [32] .

Raksasa teknologi dari Negeri Sakura, Sony, dilaporkan sedang dalam pembicaraan bisnis untuk memasok sejumlah komponen kamera smartphone ke Apple guna disematkan ke perangkat iPhone terbaru. Sony berharap, kerja sama keduanya akan berlangsung minimal mulai tahun depan dilaporkan media bisnis asal Jepang, Nikkei, upaya Sony tersebut guna menggandakan keuntungan bisnisnya di bidang pasokan komponen smartphone. Untuk diketahui, hampir semua komponen sensor CMOS pada pada kamera utama iPhone 5S juga merupakan pasokan dari kemungkinan nantinya, pasokan komponen kamera dari Sony tersebut bakal disematkan di bagian depan iPhone alias kamera sekunder. Sony dianggap sebagai pemasok komponen perangkat teknologi high-definition yang memiliki sensor CMOS lebih besar. Dengan demikian ke depannya nanti, kamera sekunder pada perangkat iPhone terbaru dapat lebih baik untuk melakukan selfie maupun smartphone Android seri Xperia itu memang tidak membocorkan informasi bakal berapa banyak pesanan sensor CMOS-nya. Namun, menurut laporan Nikkei tersebut, kemungkinan besar Apple akan memesan lebih dari 100 juta unit tiap tahunnya. Bahkan, jumlah tersebut bisa lebih dari dua kali lipat bila seandainya smartphone terbaru Apple terjual sangat laris, seperti yang terjadi di masa Sony, bisnis di bidang pasokan komponen sensor kamera terbilang cukup baik. Selama tahun fiskal 2013 lalu, penjualan sensor CMOS-nya telah mencapai sekitar 360 miliar yen atau setara dengan Rp 37 triliun. Bahkan, pangsa pasarnya di bisnis tersebut telah mencapai sekitar 32,1 persen. Selain Apple, pelanggan utamanya pun juga berasal dari para pemain global, seperti Huawei dan Samsung.

Thesize of a smartphone sensor is typically given as a fractional number in inches (eg. 1/2.3", 1/3.06"), which may appear to give the diagonal dimensions of

Bodi SajaDSC-RX0M2Kit Pegangan Bodi + Pengambilan GambarDSC-RX0M2GGambaran umumSpesifikasi & FiturUlasanTerkaitDukunganRX0 II kamera premium mungil dan tangguhGambaran umumSpesifikasi & FiturUlasanTerkaitDukungan Perangkat lunak baru kini perangkat lunak ini memungkinkan live streaming dan komunikasi online berkualitas tinggi. Kualitas gambar premium dari bodi ultra compactRX0 II adalah teman ideal dalam kehidupan. Kamera ini menangkap gambar memukau, bahkan dalam cahaya yang redup, dengan sensor berkemampuan tinggi tipe dan lensa distorsi rendah ZEISS Tessar T*, dan gambar bisa dibagikan dengan mudah menggunakan smartphone. RX0 II juga memiliki perekaman film 4K internal, stabilisasi gambar yang mengesankan, jarak fokus minimum 20 cm, dan layar LCD yang dapat dimiringkan 180°. Desain kuat, dibuat untuk performaKetangguhan kamera yang bisa dibawa ke mana saja ini terlihat dari desain sederhana dengan alur dan garis bersih, tanpa tonjolan yang tidak perlu. Bodi ekstra super duraluminnya sangat kuat tetapi tetap ringan. Pas di kantong, dan kehidupan Anda Diciptakan untuk gambar optimalTangkap kehidupan dari setiap sudut Perluas pilihan kreatif AndaDilengkapi kemampuan pemrosesan gambar Foto dan film resolusi tinggi yang tajamBodi mungil RX0 II berisi teknologi gambar tercanggih, yang didesain untuk menghasilkan gambar indah dalam situasi pengambilan gambar apa pun yang mungkin ditemui. Clear Image Zoom memungkinkan zoom hingga 2x dengan penurunan kualitas yang memukau dan noise rendahSensor CMOS Exmor RS™ tipe berfungsi bersama mesin pemroses gambar tingkat lanjut BIONZ X™ untuk menghasilkan rentang dinamis lebar, mengurangi noise, serta menampilkan detail natural dan gradasi rona yang kaya. Lensa ZEISS Tessar T*Lensa F4 sudut lebar ZEISS Tessar T* 24mm menghasilkan gambar indah di hampir segala kondisi pengambilan, dengan peningkatan kontras dan ketajaman, dan pengurangan Kulit HalusUntuk potret dan selfie yang lebih baik, mode Kulit Halus kamera mengurangi kerutan halus pada wajah dan kulit kusam tanpa kehilangan detail mata dan mulut AFKetika Anda mengambil potret dan selfie, fungsi Eye AF pada RX0 II disetel khusus agar fokus otomatis pada mata subjek. Film resolusi tinggi yang indahRekaman film 4K internal dengan pembacaan piksel penuhRX0 II memungkinkan Anda merekam film 4K dengan pembacaan piksel penuh dan tanpa pixel binning, menggunakan oversampling 1,7x untuk membantu menghasilkan gambar dan adegan yang jernih memukau. Meski berukuran kecil, kamera ini mendukung rekaman internal 4K 30p QFHD 3840 x 2160, sehingga ideal untuk merekam film 4K dengan kualitas gambar tinggi ketika bepergian atau ketika merekam adegan dari kehidupan sehari-hari. Menjadikan film hebat semakin hebatStabilisasi gambar elektronik baru membantu merekam film memukau, dan tambahan Movie Edit untuk smartphone menghasilkan gambar yang halus, menyerupai pengambilan gambar dengan gimbal. Movie Edit juga secara otomatis menjaga subjek dalam bingkai, bahkan ketika film dipotong agar sesuai layar smartphone dan dibagikan di media sosial. Kukuh dan tangguh, ambil gambar tanpa waswasSuper compact dan ringan, RX0 II dibuat kokoh dan tangguh. Masukkan ke tas atau bawa menggunakan talinya, dan gunakan di tempat di mana Anda tak pernah bisa mengambil gambar sebelumnya. Ultra compact dan siap berpetualangRX0 II adalah kamera hebat nan mungil. Mudah dibawa ke mana saja dan menghasilkan gambar kualitas tinggi setiap kali mengambil gambar. Desainnya yang sederhana dan sedikit tonjolan membuatnya lebih mudah disetel, dibawa, dan disimpan. Tahan air/tahan debuHingga 10 meter/33 kakiUntuk snorkeling di air tawar, mengambil gambar di tepi kolam atau ditengah hujan badai- RX0 II menghadirkan beragam opsi pengambilan gambar. Tak perlu waswas air hujan atau tumpahan minuman, Anda juga bisa membidik dengan nyaman di lokasi yang berangin dan berdebu. Semua bisa dilakukan tanda memerlukan case tahan air atau aksesori tambahan. Tahan guncanganDari ketinggian 2,0 meter/6,5 kakiBerkat desain tahan guncangan, Anda tidak perlu mencemaskan kecelakaan yang kadang terjadi - bodi kokoh RX0 II dibuat agar tahan terhadap benturan akibat jatuh dari ketinggian 2,0 meter 6,5 kaki. AntipecahHingga 200 kgf/440 lbf/2000 NRawat seperlunya – masukkan saja kamera ke dalam tas atau saku, atau bawa ke mana saja tanpa perlu cemas. Monitor LCD dapat dimiringkan, sempurna untuk selfieMonitor LCD bisa miring ke atas sekitar 180°, selfie dan vlogging jadi semakin mudah. Desainnya tahan air dan tahan debu, sehingga bisa digunakan untuk mengambil gambar di bawah air. Monitor juga bisa miring ke bawah, sekitar 90°, untuk membantu pengambilan gambar dari sudut tinggi. Lebih terkontrol dengan pegangan pengambilan gambar opsionalPegangan VCT-SGR1 dilengkapi kontrol terintegrasi untuk menekan pelepas rana dan mengoperasikan tombol rekam dan zoom kamera dari pegangan. Pegangan ini juga bisa diubah menjadi tripod meja. Mikrofon eksternal untuk suara kualitas tinggiMeski berukuran ultra compact, RX0 II dilengkapi jack mikrofon untuk memasang mikrofon eksternal untuk kualitas suara vlog dan film yang lebih baik. Film gerakan super lambat dari pengambilan 960 fps/1000 fps Pengambilan gambar pada tingkat kecepatan per frame hingga 960fps/1000fps menangkap adegan sangat cepat dan memungkinkan pembuatan adegan film gerakan super lambat. Anda juga bisa merekam dalam resolusi Full HD hingga 120fps/100fps. Rekaman interval untuk film time-lapseFitur rekaman interval baru pada kamera memungkinkan pengambilan gambar kontinu dengan interval antara 1 dan 60 detik. Gambar diam kemudian dapat diedit menjadi film time-lapse di PC. Gambar kontinu hingga 16 fps dengan pengurangan blackoutBerkat kemampuan pengambilan gambar kontinu RX0 II, mengabadikan momen penting atau ekspresi wajah jadi lebih cepat dan mengagumkan. Hingga 129 gambar JPEG Standar dapat diambil dalam sekali burst. Rana anti-distorsi hingga 1/ dtk. Rana Anti-Distorsi memungkinkan kecepatan rana hingga 1/ dtk, dan didesain untuk meminimalkan fenomena rana berputar yang dapat mendistorsi gambar objek yang bergerak Gambar yang cocok bagi pengguna profesionalDengan fitur Profil Gambar dan S-Log2, Anda dapat menentukan keseluruhan nuansa produksi film dari bodi kamera, mengatur parameter yang memengaruhi tampilan akhir film. Nikmati percakapan video di layar besar BRAVIAMengobrol dengan teman dan keluarga di layar besar dengan menghubungkan kamera ke TV BRAVIA. Webcam Imaging Edge™Imaging Edge Webcam mempermudah pemakaian kamera Sony sebagai webcam berkualitas berkat kompatibilitas yang beragam, untuk live streaming dan konferensi yang mengesankan. Kontrol multi-kamera nirkabel Sempurna untuk digunakan sehari-hari dengan smartphoneAplikasi Imaging Edge Mobile dari Sony memungkinkan beberapa kamera dikontrol dari smartphone atau perangkat mobile lainnya. Konektivitas nirkabel memberikan keleluasaan untuk memosisikan kamera yang kukuh dan mungil ini di mana pun. Bidikan multi-kamera dengan koneksi kabelKontrol yang presisi dan akurat memenuhi kebutuhan alur kerja profesionalDengan Camera Control Box CCB-WD1 opsional, Anda dapat mengontrol beberapa kamera sekaligus, memantau dan mengubah setelan jarak jauh dari PC yang terhubung. Ini menghasilkan koneksi stabil ke kamera yang mendukung sinkronisasi beberapa kamera secara akurat, dan memungkinkan transfer file cepat dari kamera untuk memudahkan manajemen file. Spesifikasi & FiturRX0 II berukuran ultra compact, dengan bodi kokoh dan tangguh yang kedap air, tahan guncangan dan tahan tindihan. Monitor yang dapat dimiringkan 180° membuat Anda dapat membingkai potret diri dan petualangan vlog, sedangkan sensor tipe dan prosesor gambar tingkat lanjut menghasilkan rona kulit yang cantik dan memungkinkan Eye AF. Kemampuan perekaman film 4K 30p internal mendukung stabilisasi F4 ZEISS Tessar T* 24mm sudut lebar LCD yang dapat dimiringkan 180 derajat Perekaman internal film 4K Gerakan super lambat hingga 960 fps/1000 fps Tipe SensorSensor CMOS Exmor RS tipe 13,2 mm x 8,8 mm, rasio aspek 32Jumlah Piksel EfektifSekitar 15,3 MegapikselKedap airYa ekuivalen IPX8Tahan tindihanYa200 kgf/2000N/440 lbfSensitivitas ISO FotoRecommended Exposure IndexAuto ISO125-12800, dapat dipilih dengan batas atas/bawah, 125/160/200/250/320/400/500/640/800/1000/1250/1600/2000/2500/3200/4000/5000/6400/8000/10000/12800 Dapat ditingkatkan ke ISO80/100, Multi-Frame NR Otomatis ISO200-25600, 200/400/800/1600/3200/6400/12800/25600Sony berkomitmen untuk tidak hanya menyediakan produk, layanan, dan konten yang memberikan pengalaman seru, tetapi juga bekerja keras untuk mencapai footprint lingkungan nol melalui kegiatan bisnis kami. Pelajari selengkapnya tentang Sony dan Lingkungan Kata berdasarkan 40 ulasan pelanggan
OPPON3 sendiri akan dirilis pada akhir bulan ini di Singapura dan akan mengusung kamera 16 megapixel dengan sensor 1/2.3” yang menjanjikan gambar berkualitas tinggi. Ketika aplikasi EdiView sudah tersemat di smartphone, otomatis Anda bisa memonitor atau mengawasi rumah, keluarga, hewan peliharaan, dan aset lainnya, kapan dan di mana pun Sensor CMOS adalah salah satu komponen kunci dalam kamera digital. Tanpa sensor CMOS, kamera digital tidak akan bisa menghasilkan gambar yang jelas dan berkualitas tinggi. Pada artikel ini, kita akan membahas secara detail tentang sensor CMOS dan bagaimana ia bekerja pada kamera digital. Apa itu Sensor CMOS? Sensor CMOS adalah kependekan dari Complementary Metal-Oxide-Semiconductor. Ini adalah tipe sensor yang digunakan pada kamera digital untuk mengubah cahaya menjadi sinyal elektronik. Sensor CMOS terdiri dari ribuan sensor foto di atas sebuah substrate yang terbuat dari bahan semikonduktor. Setiap sensor foto ini bertanggung jawab untuk menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal elektronik yang kemudian diteruskan ke prosesor kamera. Bagaimana Sensor CMOS Bekerja? Sensor CMOS bekerja dengan cara yang mirip dengan sensor CCD Charge-Coupled Device. Keduanya bekerja dengan mengubah cahaya menjadi sinyal elektronik, tetapi ada beberapa perbedaan utama dalam cara kerjanya. CCD menggunakan satu output untuk semua piksel, sementara CMOS memiliki output yang terpisah untuk setiap piksel. Ini membuat sensor CMOS lebih cepat dan lebih efisien daripada CCD. Pages 1 2 3 4 oW6em.
  • q4vza89rhi.pages.dev/663
  • q4vza89rhi.pages.dev/47
  • q4vza89rhi.pages.dev/301
  • q4vza89rhi.pages.dev/773
  • q4vza89rhi.pages.dev/404
  • q4vza89rhi.pages.dev/746
  • q4vza89rhi.pages.dev/861
  • q4vza89rhi.pages.dev/921
  • sensor cmos pada kamera smartphone